Teguh Aditya Page

Just another WordPress.com weblog

Pengertian Sistem Sosial

Suatu sistem sosial dirumuskan sebagai suatu sistem dari unsur-unsur sosial atau seperti dikemukakan oleh Hugo F. Reading “the system of social element” Perumusan arti sistem sosial ini sangat sederhana, dan memerlukan penjelasan yang memadai terutama sistem dan unsur-unsur sosial.
Apakah sistem itu. Tatang M Amirin menyatakan bahwa istilah sistem berasal dari bahasa Yunani “systema” yang mempunyai arti sebagai berikut :
1.Suatu hubungan yang tersusun dari sekian banyak bagian,
2.Hubungan yang berlangsung di antara satuan-satuan atau komponen-komponen secara teratur.
Jadi, systema itu mengandung arti sebagai sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan satu keseluruhan (a whole). Dikemukakan pula oleh Amirin bahwa dalam perkembangannya ternyata pengertian sistem serupa ini hanya merupakan salah satu ipemertian saja, ternyata istilah ini dipergunakan untuk menunjuk N Jordan dalam bukunya “Some Thinking About System”. Amirin mengemukakan bahwa tidak kurang dari 15 macam pengertian sistem digunakan. Dari 15 penggunaan istilah sistem, Tatang M Amirin mengambil enam contoh yang menurutnya agak dikenal di indonesia. Keenam pengeritan sistem itu adalah sebagai berikut :
a.Sistem yang digunakan untuk menunjuk suatu kumpulan atau himpunan benda-benda yang disatukan atau dipadukan oleh suatu bentuk yang saling berhubungan atau saling ketergantungan yang teratur; suatu himpunan bagian-bagian yang tergabung secara alamiah maupun oleh budi daya manusia sehingga menjadi suatu kesatuan yang bulat dan terpadu; suatu keseluruhan yang terorganisasikan, atau sesuatu yang organik; atau juga berfungsi, berfungsi, bekerja atau bergerak secara serentak bersama-sama, bahkan sering bergeraknya mengikuti suatu kontrol tertentu. Sistem tata surya, ekosistem, merupakan contohnya.
b.Sistem yang digunakan untuk menyebut alat-alat atau organ tubuh secara khusus memberikan andil atau sumbangan terhadap berfungsinya fungsi tubuh tertentu yang rumit tetapi amat vital. Misalnya saja sistem syaraf.
c.Sistem yang menunjukan sehimpunan gagasan (ide) yang tersususn, terorganisasikan, suatu himpunan gagasan, prinsip, dokrin, hukum dan sebagainya yang membentuk suatu kesatuan yang logik dan dikenal sebagai isi buah pikiran filsafat tertentu, agama, atau bentuk pemerintahan tertentu. Sistem teologi Agustinus, sistem pemerintahan demokratik, sistem masyarakat Islam, merupakan contoh-contohnya.
d.Sistem yang dipergunakan untuk menunjuk suatu hipotesis atau suatu teori (yang dilawankan dengan praktek). Kita kenal misalnya pendidikan sistematik.
e.Sistem yang dipergunakan dalam arti metode atau tata cara. Misalnya saja sistem mengetik sepuluh jari, sistem modul dalam pengajaran, pembinaan pengusaha golongan ekonomi lemah dan sistem anak angkat, dan belajar dengan sistem jarak jauh.
f.Sistem yang dipergunakan untuk menunjuk pengertian skema atau metode pengaturan organisasi atau susunan sesuatu, atau mode tata cara. Dapat juga dalam arti suatu bentuk atau pola pengaturan, pelaksanaan atau pemrosesan, dan juga dalam pengertian metode pengelompokan, pengkondifikasian, dan sebagainya. Misalnya saja sistem pengelompokan bahan pustaka menurut Dewey (Dewey Decimal Clasification).
Apabila ditelaah dengan seksama, dari ragam pengertian sistem yang telah diindentifikasikan diatas, terdapat suatu ciri khusus yang melekat pada tiap arti sistem. Ciri khusus tersebut adalah bahwa didalam sistem unsur-unsur yang berkaitan atau berhubungan sebagai suatu kesatuan. Di dalam sisyem berarti ada unsur yang berdiri sendiri-sendiri, tetapi merupakan bagian dan bagian itu berhubungan sebagai suatu kesatuan. Ciri inilah yang kelihatan menjadi patokan dalam membuat batasan atau definisi maupun arti sistem, seperti ditunjukan oleh beberapa definisi arti sebagai berikut:
g.Elias M Awad, menyatakan bahwa “… a system can be defined as an organized group of components (subsistems) linked together according to plan to achieve a specific objective”
h.Johnson, Kast dan Rosenzweig (alih bahasa Madudji, 1980) menyebutkan bahwa suatu sistem adalah “suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau teorganisasi; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh”.
i.Campbell, menyatakan bahwa :”we might define a system as any group of interrelated components or parts which function together to achieve a goal”
j.Shrode dan Voich, mengemukakan bahwa “a system is a set of interrelated parts, working independently and jointly, ini pursuit of common objectives of the whole, within a complex environment.
Definisi yang diberikan oleh Shrode dan Voich ini dirumuskan setelah mereka menelaah unsur-unsur dari definisi-definisi sistem. Menurut mereka unsur-unsur itu adalah:
a.hipunan bagian-bagian
b.bagian-bagian itu saling berkaitan
c.masing-masing bagian bekerja secara mandiri dan bersama-sama, satu sama lain saling mendukung
d.semuanya ditujukan pada pencapaian tujuan bersama atau tujuan sistem
e.terjadi di dalam lingkungan yang rumit atau kompleks
Pengertian sistem yang dijabarkan oleh Shrode dan Voich tersebut, senada dengan pengertian sistem yang diajukan oleh Henry C Lucas Jr dalam buku “The Analysis, Design, and Implementation of Information System. Menurut Lucas, a system is an organized, ineracting, interdepenet, and integrated set of components of variables”. Dengan mengutip Schroderbek (1971), Lucas menguraikan dimensi suatu sistem, sebagai berikut:
1.The components of system are interrelated and interdependent, unrelated and independent components do not constitute a system. In fact, one of the important tasks in studying a system is to determine the relationships among components.
2.A system is viewed as whole, we do net necessarily break it down into constituent parts, particulary if it means that we lose sight of the entire system. In many instances we shall concentrate on subsystem that constitute a large sistem, but we do not want to ignore to overall framework provided by larger system.
3.System are goal seeking in some way, the interacting components reach some final state or goal, an equilibrium position of goal attainment
4.System have inputs and outputs, they are dependent on some set of inputs to process to attain the sistem’s goals. All systems produce some output needed by other sysems.
5.All systems transform inputs into outputs, usually the form of the output differs from that of the input.
6.System exhibit entropy, a term borrowed from thermodynamics. Entrhopy describes the state of a cloded system (no inputs from outside the system) where all elements move toward disorganization and inablility to obtain and process inputs so the system in unable to produce outputs. Information processing is critical to the survival of system.
7.the system must have a way to regulate its interacting components so that its objectives will be realized. Planning, control, and feedback are associated with this regulatory function.
8.System usually consist of smaller subsystems. The disting of smaller system within larger ones forms a hierarchy that is a characteristic of system theory.
9.We usually find differentiation in complex systems, that is specialized unit perform specialized tasks.
10.System regenerally exhibit equifinaly, some final state that can be reached from several different paths or starting points. In other words, there are multiple ways to achieve the goal of the system.
Dengan memperhatikan hal-hal diatas, dapat kita menyatakan bahwa suatu sistem merupakan suatu keseluruhan dari unsur-unsur atau bagian-bagian yang berkaitan atau berhubungan satu sama lain dalam satu kesatuan. Di dalam pengertian sederhana ini tercakup adanya hubungan timbal balik antara unsur-unsur atau bagian-bagian sistem. Apabila pengertian sistem diterapkan pada sistem sosial, maka suatu sistem sosial dapat diartikan sebagai suatu keseluruhan dari unsur-unsur sosial yang berkaitan dan berhubungan satu sama lain., dan saling pengaruh-mempengaruhi, dalam kesatuan.

Advertisements

April 25, 2007 Posted by | sistem_sosial_budaya_indonesia | Leave a comment

Produktivitas Kelompok

Konsep produktivitas dari Miner (1992:398) menyatakan bahwa produktivitas kelompok merupakan “output devided by input, the productivity indes is the ratio of output and input”. Jadi produktivitas kelompok adalah output dalam usaha kelompok dibagi oleh input dalam usaha kelompok dan indeks produktivitas kelompok adalah rasio dari output dan input dalam kelompok.
Patokan yang digunakan dalam pengukuran produktivitas kelompok yaitu :
1.Jangka waktu pengukuran dalam waktu tertentu.
2.Jumlah atau nilai output dari usaha kelompok
3.Jumlah atau nilai input dari usaha kelompok
4.perbandingan output-input sebagai indeks produktivitas kelompok.
Oleh karena itu mengukur produktivitas kelompok perlu menghitung indeks produktivitas kelompok yang memerlukan perhitungan berikyt:
1.Jumlah output, yaitu besarnya jumlah hasil usaha kelompok
2.Jumlah input, yaitu besarnya jumlah biaya usaha kelompok
3.Rasio output dibagi indput merupakan indeks produktivitas kelompok

April 25, 2007 Posted by | psikologi_perkembangan | Leave a comment

Pengertian Kelompok

Terdapat sejumlah ahli yang mendefinisikan kelompok, tentunya definisi yan dikemukakannya menurut perspektif disiplin yang melatarbelakanginya seperti disiplin ilmu sosiologi, komunikasi, maupun psikologi sosial, yang kesemuanya untuk mendapat pengertian mengenai kelompok. Definisi tersebut antara lain:
“Group is a collection of organisms in wich the existence of all (in their given relationships) is necesarrt to the satisfaction of certain individual needs in each. That is to say, the group is an instrument toward the satisfaction on needs in the individual. Individuals belong to the groups only because they achieve certain satisfaction made possible by its organization wich would not so readily be bossible for them through any othe device (Cartwright and Zander, 1971:20)
Kelompok adalah suatu kolektif yang terdiri atas berbagai organisme dimana eksistensi semua anggota sangat penting untuk memuaskan berbagai kebutuhan individu. Artinya, kelompok merupakan suatu alat untuk mendapatkan berbagai kebutuhan individu. Individu menjadi milik kelompok karena mereka mendapatkan berbagai kepuasan sebaik mungkin melalui organisasi yang tidak dengan mudah mereka dapatkan melalui cara lainnya.
Wekley and Yukl (1977) mengemukakan bahwa kelompok merupakan sekumpulan orang yang berinteraksi satu sama lain secara teratur dalam suatu periode tertentu, dan merasakan adanya ketergantungan diantara mereka dalam rangka mencapai satu atau lebih tujuan bersama. James A F Stoner (1980), menyatakan bahwa kelompok merupakan kumpulan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Edgar H Schien (1980), menjelaskan bahwa kelompok merupakan sejumalh orang yang mengadakan interaksi satu sama lain, secara psikologis sadar akan adanya orang lain selain dia dan menganggap diri mereka sebagai suatu kelompok. Shaw (1979), merumuskan pengertian kelompok berdasarkan karakteristik khusus yaitu:
1.persepsi dan kognisi anggota kelompok
2.motivasi dan pemenuahan kebutuhan
3.tujuan kelompok
4.organisasi kelompok
5.saling ketergantungan diantara anggota
6.interaksi
Daro sudut pandang persepso, Smith and Bales (1945) mengembangkan batasan kelompkm sebagai sejumlah individu yang berinteraksi tatap muka dengan sesamanya melalui pertemuan-pertemuan, dimana anggota saling menerima kesan persepsi yang menjadikan masing-masing anggota berekasi secara individual. Dari sudut pandang motivasi, Cattel (1951) menyatakan bahwa kelompok merupakan kumpulan organisme yang berkembang sebagai suatu kumpuan individu yang berguna untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Bass (1960) memandang kelompok merupakan kumpulan individu yang berkembang untuk mendorong dan memberi ganjaran satu sama lain dari sudut pandang tujuan. Mill (1967) mengemukakan bahwa kelompok sebagai suatu kesatuan yang terdiri atas dua orang atau lebih yang melakukan hubungan untuk tujuan tertentu dan mempertimbangkan pemikiran-pemikiran dalam memaksakan hubungan tersebut. Dari sudut pandang ketergantunan antar anggota, Cartwright and Zander (1968) mengemukakan pengertian kelompok sebagai sekumpulan individu yang melakukan konyak (hubungan) dengan sesama anggota yang menunjukan saling ketergantungan yang bermakna.
Atas dasar pengertian-pengertian yang telah dikemukakan diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian kelompok tidak terlepas dari elemen-elemen, keberadaan dua orang atau lebih yang melakukan interaksi dan saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Jadi jelaslah disini bahwa meskipun ada sekumpulan individu, jika kumpulan tersebut tidak memiliki elemen-elemen sebagimana disebutkan di atas, maka kumpulan tersebut belumlah dapat dsebut sebagai kelompok.
Suatu kelompok dipandang dari sutut psikologi sosial memiliki struktur dan fungsi. Hal ini terbentuk oleh lingkungan kelompok (group envirunment) itu senditi yang terdiri atas lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan lingkungan personal kelompok. Masing-masing lingkungan tersebut memberi sumbangan tersendiri terhadap bentuk dan pola interaksi, iklim, wawasan, perspektif, serta dinamika kelompok.Lingkungan fisik lebih mengarah pada segi geografis, termasuk juga iklim lingkungan tersebut, tempat, jarak jauh dekatnya dari pusat informasi. Lingkungan sosial termasuk didalamnya hubungan dengan sesama kelompok yang lain, yang ada kaitannya dengan fungsi kelompok, kekompakan kelompok, heterogenitas, dan homogenitas anggota kelompok, pengaruh-pengaruh sosial, kepuasan anggota, dan produktivitas kelompok. Lingkungan personal suatu kelompok yang ikut memberi warna terhadap bentuk dan pola interaksi kelompok adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan aspek kepribadian manusia secara personal dalam peranananya sebagai anggota kelompok.
Menulusuri rangkaian pemikiran mengenai kelompok diatas, diperoleh kesan begitu komplesnya suatu kelompok yang kita lihat sehari=hari secara sederhana. Hal ini disebabkan oleh sudut pandang yang multidimensional yang dapat dipergunakan untuk membahas dan menelaah kelompok dengan berbagai fenomenanya. Dengan kata lain kesan komples terbentuk dari teori apa yang digunakan untuk menelaah kelompok tersebut.
Gagasan pemikiran yang berkembang untuk membahas dan menelaah kelompk sebnagai salah satu fenomena sosial dan fenomena psikologis adalah bahwa kelompok mampu dijadikan sebagai sistem intervening untuk memahami realitas sosial secara makro, maupun realitas mikro manusia. Ivancevich (1977) menegaskan bahwa setidak-tidaknya ada tiga alasan utama mengapa kelompok penting untuk dijadikan objek telaah suatu penelitian. Alasan pertama bahwa kelompk yang didalamnya terkandung order sosial tidak mengarahkan individu untuk mengerti (memahami) nilai-nilai dan norma-norma sosial. Alasan kedua bahwa kelompok berfungsi sebagai perantara yang cukup penting dalam melayani berfungsinya individu dalam masyarakat secara umum. Kelompok mampu memuaskan ekonomi, status atau hubungan persahabatan yang dibutuhkan indibidy melalui kedudukannya selaku anggota kelompok. Alasan ketiga adalah bahwa sebenarnya kelompk tidak begitu komples untuk dipelajari atau ditelaahm diuji, dan dieskperimentasikan dibandingkan dengan suatu organisasi yang lebih besar.

April 25, 2007 Posted by | psikologi_perkembangan | Leave a comment

Kepuasan Anggota

Konsep tentang kepuasan anggota, sebagaimana dikemukakan oleh Feldman dan Arnold (1983:192) adalah “The amount of overall positive affect (of feelings) that individual toward their jobs). Artinya kepuasan anggota merupakan jumlah keseluruhan perasaan positif anggota terhadap pekerjaannya dalam kelompok. Apabila anggota memiliki kepuasan yang tinggi, maka anggota itu secara umum menyukai, menilai tinggi, dan memiliki perasaan postif terhadap pelaksanaan tugasnya dalam kelompok.
Kepuasan berasal dari sikap individu yang menggambarkan semangat yang diwakili oleh perasaan-perasaan individu (Hollander, 1977). Dengan demikian tingkat pengukurannya biasanya menggunakan pendekatan individual.
Hal-hal yang menjadikan keputusan seseorang biasanya bersumber dari berbagai kemungkinan, antara lain,
1.Pendapatan yang diperoleh anggota dari hasil usaha yang dilakukan dalam kelompok.
2.Pekerjaan itu sendiri, yaitu pelaksanaan tugas/kerja yang dilakukan dalam kelompok.
3.Promosi, adalah sesempatan untuk maju dan memungkinkan karir yang diperoleh anggota kelompok
4.Supervisi yang dilakukan oleh ketua kelompok terhadap anggota
5.Kesempatan berinteraksi dengan anggota lain dalam mengerjakan tugas-tugas kelompok
6.Kondisi kerja, yaitu keadaan tempat dan fasilitas kerja yang tersedia dan menjamin keselamatan kerja.

April 25, 2007 Posted by | psikologi_perkembangan | Leave a comment

Kepaduan Kelompok

Festinger (dalam Shaw, 1979:197) mengatakan bahwa kepaduan kelompok merupakan “the resultant of all the forces actingon the member to remain in ther group”. Artinya kepaduan kelompk merupakan hasil akhri keseluruh kekuatan yang menyebabkan anggota tetap bertahan dalam kelompok
Shaw (1979) mengungkapkan beberapa kriteria tentang suatu kelompok dengan kepaduan yang tinggi, yaitu “more energetic the group activities, they are less likely to be absent from group meeting, they are happy when the group success ang sad when it falls”. Jadi untuk melihat kepaduan kelompok dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut:
1.anggota lebih energik dalam melakukan kegiatan kelompok
2.hasrat dari anggota untuk bertahan dalam kelompk
3.anggota mengindetifikasikan diri pada kelompok
Sejalan dengan pendapat Shaw (1979) Johnson & Johnson (1991) mengemukakan pengertian kepaduan kelompok sebagai derajat keinginan anggota untuk tetan bekerja sama dan aktif dalam kegiatan anggota dengan beberapa ciri sebagai :
1.sangan menghargai tujuan kelompok
2.melekatkan diri pada norma kelompok
3.melindungi kelompok dan selalu berusaha mencegah pada anggota yang melanggar norma
4.memiliki tingkat loyalitas yang tinggi dan bersedia untuk bekerja sama demi mencapai tuhuan bersama
5.menerima tanggung jawab kelompok
6.memiliki ketahanan tinggi untuk mencapai tujuan yang sulit
7.memiliki motivasi yang tinggi untuk mennyelesaikan tugas kelompok
8.puas terhadap kerja kelompok
9.efektif dalam menjalin komunikasi satu sama lain
10.saling mempengaruhi dalam menentukan keputusan
11.bersedia mendengarkan dan menerima pendapat orang lain
12.bersedia menanggung rasa sakit atau frustasi atas nama kelompok
13.sanggup menerima kritik dan mempertahankan serangan dari luar kelompok
Berdasarkan pendapat Shaw dan Johson & Johnson diatas maka kepaduan kelompok dapat diukur dengan hal-hal sebagai berikut:
1.Anggota lebih energik dalam melakukan kegiatan kelompok
2.Hasrat yang kuat dalam anggota untuk bertahan dalam kelompok
3.Anggota mengidentifikasikan diri pada kelompok

April 25, 2007 Posted by | psikologi_perkembangan | Leave a comment

Jenis dan Fungsi Kelompok

a.Jenis-jenis Kelompok
Jenis-jenis kelompok dapat dibedakan berdasarkan klasifikasi. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan dalam lingkungan organisasi atau perusahaan, maka ada jenis kelompok formal dan kelompok tidak formal. Kelompok formal adalah sub unit sah dari organisasi yang telah ditetapkan anggaran dasar organisasi atau oleh suatu ketetapan manajemen. Jadi kelompok ini sengaja dibentuk untuk memenuhi tugas yang nyata guna mendukung keseluruhan tugas organisasi. Kelompok informal adalah kelompok yang muncul sebagai upaya pemenuhan kebutuhan inividu dengan mengembangkan tata hubungan dengan anggota lain dalam organisasi. Kelompok informal hanya dapat terbentuk apabila lokasi fisik anggota-anggotanya, sifat pekerjaan, dan jadwal kerja memungkinkan untuk terbentuknya kelompok. Oleh karena itu kelompok informal muncul dari kombinasi antara fakor-faktor formal dan kebutuhan manusia sebagai anggota-anggotanya
b.Fungsi-fungsi Kelompok
Pada dasarnya fungsi kelompok dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu fungsi organisasi formal dan fungsi kebutuhan individual. Artinya suatu kelompok tertentu dapat memenuhi kebutuhan fungsi organisasi formal dan kebutuhan pribadi.
Fungsi organisasi formal adalah aspek-aspek kegiatan kelompok yang bertepatan dengan tugas pokok organisasi, antara lain :
1.kelompk dapat digunakan sebagai sarana untuk mengerjakan tugas-tugas yang kompleks yang saling berkaitan dan terlalu sukar untuk dikerjakan oleh siapapun, dan tidak mudah untuk dibahi-bagikan dalam tugas-tugas tersendiri,
2.kelompok dapat digunakan sebagai sarana untuk mencetuskan gagasan-gagasan baru atau pemecahan masalah yang memerlukan kreativitas tertentu.
3.kelompok dspat menjadi penghubung penting atau menjadi koordinator beberapa bagian.
4.kelompok dapat berfungsi sebagai cara untuk memecahkan berbagai masalah yang memerlukan pengolahan informasi yang sangat pelik.
5.kelompok dapat digunakan untuk memudahkan pelaksanaan keputusan yang rumit, dan
6.kelompok dapat digunakan sebagai wahana sissialisasi atau pelatihan satu sama lain.
Kelompok sebagai fungsi pemenuhan kebutuhan individual didasarkan bahwa setiap individu memiliki beraneka macam kebutuhan, dan kelompok dapat memenuhi kebutuhan itu meliputi :
1.kelompok sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan persahabatan, dukungan, dan kasih sayang
2.kelompok sebagai sarana untuk mengembangkan, meningkatkan dan menegaskan rasa identitas dan memelihara harga diri
3.kelompok merupakan sarana untuk menguji kenyataan sosial, melalui diskusi dengan kelompok lain, pengembangan perspektif dan konsensus bersama yang dapat mengurangi keragu-raguan dalam lingkungan sosial.
4.kelompok dapat menghilangkan rasa kurang aman, cemas, dan tidak berdaya
5.bagi para anggotanya kelompok merupakan mekanisme pemecahan masalah dan penyelesaian tugas, terutama yang berkaitan dengan masalah pribadi masing-masing anggota.

April 25, 2007 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Dimensi-Dimensi Dalam Kelompok

Dalam suatu kelompok terdapat sejumlah dimensi yang dapat diamati, yaitu: dimensi individu, dimensi struktural, dan dimensi tugas. Untuk memperjelas dimensi-dimensi tersebut diatas, berikut ini akan diuraikan secara singkat.
a.Dimensi Individu
Dimensi Individu merupakan karakteristik tiap anggota yang dibawa masing-masing anggota kedalam kelompok. Yang termasuk dalam dimensi ini adalah kecapakan, intelegensi, dan kepribadian. Kecakapan biasanya berkaitan dengan kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas supaya dapat digunakan secara efektif. Sementara itu kepribadian berkaitan dengan anggota lain dalam kelompok.
b.Dimensi Strutural
Dimensi Struktural merupakan karakteristik yang berhubungan dengan penyelenggaraan kelompok dalam rangka mencapai tujuan. Hal-hal yang berkaitan dengan dimensi struktural kelompok adalah komposisi, norma, status, peran dan kohesi kelompok.
1.Komposisi kelompok menyangkut homogenitas dan heterogenitas anggota membentuk kelompok. Homogenitas sering dihubungkan dengan efektifitas tugas yang rumit dan bervariasi.
2.Status merupakan perangkat sosial yang menunjukan posisi anggota dalam kelompok. Status ini akan memperjelas batas wewenang dan tanggung jawab. Faktor-faktor yang mempengaruhi status seseorang didalam kelompok adalah keterampilan kerja, kemampuan bergaul, jabatan yang dipegang, usia, dan pendidikan.
3.Peran merupakan struktur kegiatan yang diperlukan setiap anggota untuk pelaksanaan tugas kelompok. Di dalam peran ini biasanya ada tiga aspek yang menonjol yaitu :
i.Expected Role adalah tingkah laku yang diharapkan oleh anggota kelompok terhadap seorang anggota lainnya
ii.Perceived Role adalah anggapan individu tentang apa yang seharusnya ia lakukuan di dalam kelompok
iii.Enacted Role adalah tingkah laku aktual yang dilakukan individu yang biasanya bergantung pada Expected Role dan Perceived Role.
4.Norma atau standar tingkah laku merupakan peraturan yang ditetapkan atas dasar kesepakatan, dan berlaku agar kelompok terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Norma di dalam kelompok biasanya dapat tertulis maupun tidah tertulis.
5.Kohesi kelompok merupakan kekuatan yang dimiliki kelompok untuk dapat mempertahankan anggotanya agar tetap berada dalam kelompok. Kelompok yang dikatakan kohesif biasanya dapat dilihat dari adanya penerimaan dan pengakuan terhadap norma serta tujuan kelompok
c.Dimensi Tugas
Tugas yang harus dilajhsanakan anggota kelompok dapat dikelompokan sebagai berikut :
1.Time Frame, yaitu waktu yang disediakan untuk menyelesaikan tugas
2.Task Requirement, yaitu bentuk tugas yang harus diselesaikan, merupakan tugas rutin atau tugas rumit.
3.Task Onjective, yaitu sasaran tugas yang harus dilaksanakan yang mencakup tugas produksi, diskusi, atau pemecahan masalah.

April 25, 2007 Posted by | psikologi_perkembangan | Leave a comment